{"id":138693,"date":"2025-08-29T01:09:18","date_gmt":"2025-08-29T01:09:18","guid":{"rendered":"https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/?p=138693"},"modified":"2025-12-09T06:56:21","modified_gmt":"2025-12-09T06:56:21","slug":"spesies-serangga-baru-dunia-banyak-ditemukan-di-bengkulu-ungkap-kaitan-dengan-virus-tanaman","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/spesies-serangga-baru-dunia-banyak-ditemukan-di-bengkulu-ungkap-kaitan-dengan-virus-tanaman\/","title":{"rendered":"SPESIES SERANGGA BARU DUNIA BANYAK DITEMUKAN DI BENGKULU, UNGKAP KAITAN DENGAN VIRUS TANAMAN"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\"><img decoding=\"async\" loading=\"lazy\" class=\"wp-image-138551 aligncenter\" src=\"https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/02\/brin1-300x296.png\" alt=\"\" width=\"369\" height=\"364\" srcset=\"https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/02\/brin1-300x296.png 300w, https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/02\/brin1-50x50.png 50w, https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/02\/brin1-80x80.png 80w, https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/02\/brin1-100x100.png 100w, https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/02\/brin1-255x252.png 255w, https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-content\/uploads\/sites\/10\/2025\/02\/brin1.png 710w\" sizes=\"(max-width: 369px) 100vw, 369px\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Universitas Bengkulu (UNIB) kini kembali menorehkan sejarah di bidang keanekaragaman hayati. Tim peneliti dari Program Studi Proteksi Tanaman, berhasil menemukan tujuh spesies serangga baru dunia yang sebagian besar berasal dari kelompok kutu putih (Hemiptera: Pseudococcidae). Temuan ini memperkaya khazanah biodiversitas Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara mega-diversity dengan kekayaan flora dan fauna yang unik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Guru Besar Entomologi UNIB, Prof. Agustin Zarkani, mengungkapkan bahwa penelitian dilakukan sejak 2020 dengan dukungan berbagai pihak. Menariknya, sebagian spesies baru justru ditemukan di sekitar lingkungan kampus dan area pasar musiman di Bengkulu.&nbsp;\u201cSpesies pertama bahkan kami temukan di pelataran kampus, saat musim durian. Keberadaan kutu putih <em>Dysmicoccus zeynepae<\/em> Zarkani &amp; Kaydan. Ini membuktikan bahwa riset tidak harus jauh-jauh ke hutan, karena kekayaan hayati ada di sekitar kita,\u201d jelas Prof. Agustin. Kemudian spesies lainnya diberi nama <em>Chorizococcos ozeri<\/em> Zarkani &amp; Kaydan, sebagai bentuk penghargaan kepada seorang kolega dari Turki yang banyak membantu tim peneliti. \u201cPemberian nama ilmiah ini juga menjadi simbol kolaborasi internasional,\u201d tambahnya.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Berikutnya kutu putih bernama latin <em>Pseudococcus iffahae<\/em> Zarkani &amp; Kaydan yang ditemukan di Belitar Seberang saat berlibur bersama sang anak dan mengadopsi dari nama sang anak, Iffah Izzatuniswah. Selain itu ditemukan juga <em>Planococcus bengkuluensis <\/em>Zarkani &amp; Kaydan, <em>Planococcus sosromarsonoi <\/em>Zarkani &amp; Kaydan, <em>Paraputo raufi<\/em> Zarkani &amp; Kaydan dan <em>Paraputo martonoi<\/em> Zarkani &amp; Kaydan yang nama-nama tersebut mengadopsi nama dari nama daerah Bengkulu dan para peneliti serangga di Indonesia.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Sementara dua spesies baru yang terakhir sebutkan tersebut di atas ditemukan di wilayah Ibu Kota Negera (IKN), Kalimantan Timur. Hingga saat ini Profesor Agustin telah menemukan tujuh spesies serangga baru dunia dan diperkirakan jumlah itu akan terus bertambah hingga pada akhir tahun 2025 ini.&nbsp;Setiap spesies baru harus melalui proses panjang sebelum diakui dunia. Para peneliti mengirimkan karakteristik morfologi, data genetik, hingga gambar ilmiah (<em>scientific drawing<\/em>) ke asosiasi ilmiah internasional dan kemudian dipublikasikan di jurnal internasional bereputasi.&nbsp;\u201cNama spesies bisa merujuk lokasi, seperti <em>P. bengkuluensis<\/em>, atau menghormati para ilmuwan Indonesia. Kami ingin para peneliti Nusantara lebih dikenal dan mendapat pengakuan dunia,\u201d jelas Prof. Agustin.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Penelitian tak hanya berhenti pada penemuan spesies. Serangga kutu putih yang berukuran kecil sekitar 2 milimeter atau lebih kecil lagi ini terbukti berperan besar dalam penyebaran berbagai virus tanaman yang bisa memengaruhi ketahanan pangan daerah. Peneliti yang berfokus pada virus tanamam adalah Dr. Mimi Sutrawati, Ketua Jurusan Perlindungan Tanaman Fakultas Pertanian UNIB. Ia menegaskan bahwa virus tanaman sering kali ditularkan melalui interaksi kutu putih dengan jaringan tanaman.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">\u201cUkuran virus jauh lebih kecil, nano skala, tak terlihat dengan mikroskop cahaya. Tetapi dampaknya bisa besar, menyebabkan penyakit sistemik seperti menguning, kerdil, bahkan gagal panen,\u201d jelas Dr. Mimi. Penelitian Dr. Mimi berhasil mencatat laporan pertama kasus Begomovirus pada pepaya di Indonesia pada 2019. Virus ini juga ditemukan pada cabai, melon, hingga jeruk di Bengkulu. Keterkaitan erat antara kutu putih dan virus tanaman menjadikan temuan ini sangat penting bagi dunia pertanian.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kembali menurut Prof. Agustin, ancaman terbesar bagi manusia bukan hanya peperangan, melainkan krisis pangan akibat kerusakan tanaman. \u201cSerangga kecil ini bisa menjadi pemicu bencana besar jika tidak dipahami dan dikendalikan. Karena itu, penelitian biodiversitas harus terus dikembangkan, bukan hanya untuk ilmu pengetahuan, tetapi juga untuk menjaga ketahanan pangan,\u201d ujarnya. \u201cKami sudah bekerja sama dengan berbagai universitas dalam dan luar negeri, termasuk Taiwan. Harapannya, mahasiswa dan generasi muda ikut terlibat sehingga riset biodiversitas Bengkulu terus berlanjut,\u201d katanya.<\/p>\n<p>Sumber utama di: <a href=\"https:\/\/rri.co.id\/bengkulu\/daerah\/1798178\/tujuh-spesies-serangga-baru-dunia-ditemukan-di-bengkulu?fbclid=IwZXh0bgNhZW0CMTAAYnJpZBExZTMwVE9HeGR5SG9WZVlOdgEeIjtE8TNB_W5bkjsQ0ZDlHah9L_KBT3Q02h7ut6GjYe6wtKPwlCc_ybLNTtw_aem_hlWSLrkkO1ysO2Bmvh6UYg\"><strong>https:\/\/rri.co.id\/&#8230;\/tujuh-spesies-serangga-baru-dunia..<\/strong><\/a><\/p>\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed is-type-video is-provider-youtube wp-block-embed-youtube wp-embed-aspect-16-9 wp-has-aspect-ratio\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\n<iframe loading=\"lazy\" title=\"MENGUPAS 7 SPESIES BARU DUNIA &amp; VIRUS UNIK BENGKULU || BENGKULU PAGI INI EDISI RABU, 27 AGUSTUS 2025\" width=\"900\" height=\"506\" src=\"https:\/\/www.youtube.com\/embed\/eGJ5TSb-cGc?feature=oembed\" frameborder=\"0\" allow=\"accelerometer; autoplay; clipboard-write; encrypted-media; gyroscope; picture-in-picture; web-share\" referrerpolicy=\"strict-origin-when-cross-origin\" allowfullscreen><\/iframe>\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Universitas Bengkulu (UNIB) kini kembali menorehkan sejarah di bidang keanekaragaman hayati. Tim peneliti dari Program Studi Proteksi Tanaman, berhasil menemukan tujuh spesies serangga baru dunia yang sebagian besar berasal dari kelompok kutu putih (Hemiptera: Pseudococcidae). Temuan ini memperkaya khazanah biodiversitas Indonesia, sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara mega-diversity dengan kekayaan flora dan fauna [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":14,"featured_media":138733,"comment_status":"closed","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":[],"categories":[557],"tags":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/138693"}],"collection":[{"href":"https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/14"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=138693"}],"version-history":[{"count":9,"href":"https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/138693\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":138844,"href":"https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/138693\/revisions\/138844"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-json\/wp\/v2\/media\/138733"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=138693"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=138693"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/agriculture.unib.ac.id\/bpp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=138693"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}