Eko Sumartono, S.P., M.Sc Merupakan mahasiswa program doktor ilmu pertanian Unib masuk nominasi 5 Besar Penghargaan Kalpataru tahun 2023 kategori yang diikuti adalah pembinaan lingkungan. dari banyak kegiatan yang dilakukan nya, sedikit kami rangkuman yang dapat dilihat sebagai berikut:

Pembinaan terkait konservasi sumberdaya alam :
Kampung Jenggalo Kito, merupakan salah satu wilayah Jln Jenggalu 3 RT 8 RW 03 di Kelurahan Lingkar Barat Kec. Gading Cempaka 38216, dengan jumlah penduduk 250 KK, dengan rata-rata penduduk berprofesi sebagai nelayan muara dan buruh/pekerja, dan KJK merupakan icon Golden Triangle Pesisir Bengkulu Permasalahan lingkungan yang dihadapi di KJK (Kampung Jenggalu Kito) adalah permasalahan sampah kiriman dari arah hulu sungai karena lokasi berada di muara sungai JENGGALU serta hilangnya vegetasi pantai khususnya hutan mangrove yang menjadi pelindung bagi pemukiman penduduk wilayah tersebut menjadi perhatian intensif untuk pelindung wilayah daratan dr Abrasi Air Laut,
Pembinaan yang dilakukan nominator Eko Sumartono sejak tahun 2017 dengan mulai mengajak RT dan Warga setempat membentuk Kampung Jenggalu Kito yang beranggotakan 140 KK atau orang memulai inisiasi membersihkan sampah kiriman secara rutin yang melibatkan mahasiswa pencinta alam dari Universitas Dehasen Bengkulu, Sekolah Tinggi Administrasi Negara, Universitas Bengkulu (MAPALA Lintas Universitas), Mahasiswa Poltekes Kemenkes, Mahasiswa Univ. Muhammadiyah Bengkulu; Adik adik mahasiswa dan sekolah menengah menanam mangrove dengan model ECO Edu Wisata (ekologi, edukasi dan berbasis wisata) dan mengajarkan kembali ke pada adik adiknya ditingkat sekolah menengah pertama dan sekolah dasar. Diawal kegiatan membersikan sampah dilakukan melalui even lingkungan seperti World Clean Up Day (WCD), Pemberdayaan KKN (Kuliah Kerja Nyata) dan Pengabdian Kepada Masyarakat.

Pembinaan yang dilakukan oleh Nominator di lokasi ini telah mendorong munculnya inisiasi untuk mengembangkan Kampung Wisata dengan konsep Eco Edu Wisata di lokasi ini yang diawali dengan pembibitan dan penanaman mangrove, pengembangan homestay dan aktivitas rutin untuk mahasiswa pencinta alam dan siswa sekolah menengah. Dalam melakukan pembinaan, nominator juga menyadari bahwa diperlukan tim , sehingga menggandeng LATUN salah satu organisasi lingkungan yang didirikan oleh nominator bersama teman-temannya yang memiliki visi dan misi yang sama dalam menjaga konservasi hutan mangrove (9 jenis IUCN red list)
Keberhasilan di lokasi binaan ini antara lain:
– Tersedianya pembibitan mangrove dengan hampir 9 jenis terancam punah yang masuk dalam red list IUCN (Cek lagi jenis2nya) yang dikembangkan tahun 2019, dengan jumlah bibit yang sudah ditanam sebanyak 60.000 bibit
– Diolahnya sampah organic rumah tangga di RT 8 menjadi pupuk organic yang dimanfaatkan untuk pertanian masyarakat dan pembibitan mangrove.

Dampak
– Ekologi: Berkurangnya timbulan sampah dan terciptanya ekosistem baru di Delta Mangrove yg tertanam 8 hektar dari total luasan 24 hektar (KJK menjamin siapapun yg berkontribusi menanam di rawat sampai hidup dan disulam jika terbawa arus atau mangrove mati di ganti).

– Sosial : Perubahan sosial masyarakat kota yg dari sebelumnya acuh tak acuh dengan keberadaan ekosistem mangrove menjadi tergerak untuk merasakan dan mangrove milik bersama.

– Ekonomi : Peningkatan pendapatan masyarakat dari penghasilan berupa Manfaat Langsung dari Kepiting Bakau, Ikan Teri, Lokan ( Kerang Muara), Ikan, Wisata Mangrove, dan Pemanfaatan Mangrove Jenis Jeruji (Acanthus Illicifolius) dijadikan teh mangrove (REKOR MURI) dan kerupuk mangrove, serta pengahsilan warung sekitar kawasan bertambah dengan adanya pengunjung.

Kendala : Belum ada alat pengolahan intensif dalam mengolah limbah sampah plastik menjadi berkualitas, belum ada alat pembersihan sampah di perairan menggunakan kapal, dan perlu peningkatan kapasitas kerjasama dengan semua stake holder yg berada dikawasan TWA pantai Panjang dimaksimalkan kembali.