Pentingnya Pemilahan Sampah (The Importance of Waste Sorting)

Pentingnya Pemilahan Sampah (The Importance of Waste Sorting)

Oleh (by): Urip Santoso

Friends of scientific stalls, in this episode I will discuss “The Importance of Segregating Waste”. Rubbish? Hey terrible! Everyone avoids it. Everyone is annoyed if there is trash nearby. right? Try to imagine if your room is crammed with trash by other people. Angry isn’t it? Surprisingly, many of us throw garbage carelessly. When you drive lightly you throw garbage on the road. When you’re outing it’s good to take out the trash. When you come to a party, it’s easy for you to litter. The funny thing is, when you get to a place where there is a lot of trash you sneer and mutter: “That’s dirty”. Friends of scientific stalls, these are the facts in our beloved country. Garbage is a serious problem. Even areas that shouldn’t be a problem have become a problem. Why? Because waste is not managed properly. Because we all throw garbage anywhere. Well, what’s even more serious is when the trash gets mixed up in a mess. There are leaf and vegetable waste, paper, plastic, zinc, iron, aluminum, syringes, medicines, batteries etc. One with another will react and form more dangerous compounds. Unfortunately, these compounds are then absorbed into the soil, some are airborne, some are flowing, and finally enter our plants, then animals and finally us. Who loses? Yes, all of us! Friends of the scientific shop, to reduce this risk, waste sorting is something that must be carried out immediately by all elements of society in all activities. Sorting also facilitates waste handling. For example, we can process organic waste into compost, biogas or other forms. [Assalamualaikum. Sahabat warung ilmiah, pada episode kali ini saya akan bahas tentang “Pentingnya Pemilahan Sampah”. Sampah? Hii mengerikan! Semua orang menghindarinya. Semua orang  kesal jika di dekatnya ada sampah. Benar kan? Coba anda bayangkan jika kamar anda dijejali sampah oleh orang lain. Marah bukan? Anehnya, banyak diantara kita yang membuang sampah sembarangan. Ketika anda berkendaraan enteng saja anda membuang sampah di jalan. Ketika anda sedang tamasya enak saja membuang sampah. Ketika anda datang ke tempat pesta, gampang saja anda membuang sampah sembarangan. Lucunya, ketika anda sampai di tempat yang banyak sampahnya anda mencibir dan bergumam: ”Ih joroknya”.

Sahabat warung ilmiah, inilah fakta di negeri kita yang tercinta. Sampah menjadi masalah yang serius. Bahkan di wilayah yang seharusnya belum menjadi masalah pun telah menjadi masalah. Mengapa? Karena sampah tidak dikelola dengan baik. Karena kita semua buang sampah sembarangan. Nah, yang lebih serius lagi adalah ketika sampah itu bercampur aduk tidak karuan. Ada sampah daun dan sayur, kertas, plastik, seng, besi, aluminium, jarum suntik, obat-obatan, baterai dll. Satu dengan lain akan bereaksi dan membentuk senyawa yang lebih berbahaya. Celakanya, senyawa-senyawa itu kemudian ada yang terserap ke tanah, ada yang mengudara, ada yang mengalir, dan akhirnya masuk ke dalam tanaman kita, kemudian ke hewan dan akhirnya ke kita. Siapa yang rugi? Ya, kita semua!

            Sabahat warung ilmiah, untuk mengurangi resiko tersebut, maka pemilahan sampah menjadi sesuatu yang harus segera dilaksanakan oleh semua unsur masyarakat pada semua aktivitas. Pemilahan juga memudahkan penanganan sampah. Misalnya, sampah organik dapat kita olah menjadi kompos, biogas atau bentuk lainnya.

Akibat Sampah yang Bertumpuk (Due to Accumulated Garbage)

Sahabat warung ilmiah, ada beberapa akibat sampah yang menumpuk antara lain sebagai berikut:

1). Lingkungan menjadi terlihat kumuh, kotor dan jorok. Ini akan menjadi tempat yang subur bagi organisme patogen yang berbahaya bagi kesehatan manusia. Juga  merupakan sarang lalat, tikus dan hewan liar lainnya. Dengan demikian sampah berpotensi sebagai sumber penyebaran penyakit.

2). Sampah yang membusuk menimbulkan bau yang tidak sedap dan berbahaya bagi kesehatan. Air yang dikeluarkan (lindi) juga dapat menimbulkan pencemaran sumur, sungai maupun air tanah.

3). Sampah yang tercecer tidak pada tempatnya dapat menyumbat saluran drainase sehingga dapat menimbulkan bahaya banjir.

4). Pengumpulan sampah dalam jumlah besar memerlukan tempat yang luas, tertutup dan jauh dari pemukiman.

Sahabat warung ilmiah, jadi, pengelolaan sampah tidak cukup hanya dilakukan dengan manajemen 3P (Pengumpulan, Pengangkutan dan Penimbunan di TPA). Sampah dikumpulkan dari sumbernya kemudian diangkut ke TPS dan terakhir ditimbun di TPA. Jadi? Pengurangan volume  sampah dengan mengolah sampah menjadi produk yang berguna perlu dipikirkan dan dipraktekkan secara  konsisten.  

Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi sistem pengelolaan sampah perkotaan, antara lain adalah:

  1. Kepadatan dan penyebaran penduduk.
  2. Karakteristik fisik lingkungan dan sosial ekonomi.
  3. Karakteristik sampah.
  4. Budaya sikap dan perilaku masyarakat.
  5. Jarak dari sumber sampah ke tempat pembuangan akhir sampah (TPA).
  6. Rencana tata ruang dan pengembangan kota.
  7. Sarana pengumpulan, pengangkutan, pengolahan dan TPA.
  8. Biaya yang tersedia.
  9. Peraturan daerah setempat.

Paradigma Penanganan Sampah (Waste Handling Paradigm)

Sahabat warung ilmiah, penumpukkan sampah di TPA adalah disebabkan oleh sebagian besar pemerintah daerah di Indonesia masih menganut paradigma lama penanganan sampah kota, yang menitikberatkan hanya pada pengangkutan dan pembuangan akhir. TPA dengan sistem lahan urug saniter yang ramah lingkungan ternyata tidak ramah dalam aspek pembiayaan, karena pembutuhkan biaya tinggi untuk investasi, konstruksi, operasi dan pemeliharaan.

Untuk mengatasi  permasalahan tersebut, sudah saatnya pemerintah daerah mengubah pola pikir yang lebih bernuansa lingkungan. Konsep pengelolaan sampah yang terpadu sudah saatnya diterapkan, yaitu dengan meminimisasi sampah serta maksimasi daur ulang dan pengomposan disertai TPA yang ramah lingkungan. Paradigma baru penanganan sampah lebih merupakan satu siklus yang sejalan dengan konsep ekologi. Energi baru yang dihasilkan dari hasil penguraian sampah maupun proses daur ulang dapat dimanfaatkan seoptimal mungkin.

Sahabat warung ilmiah, Sistem Pengelolaan Sampah Terpadu tersebut berarti paling tidak mengkombinasikan pendekatan pengurangan sumber sampah, daur ulang & guna ulang, pengkomposan, insinerasi dan pembuangan akhir. Pengurangan sumber sampah untuk industri itu berarti perlu adanya teknologi proses yang nirlimbah serta packing produk yang ringkas/minim serta ramah lingkungan. Sementara pengurangan sumber sampah bagi rumah tangga berarti menanamkan kebiasaan untuk tidak boros dalam penggunaan  barang-barang keseharian. Untuk pendekatan daur ulang dan guna ulang diterapkan khususnya pada sampah non organik seperti kertas, plastik, alumunium, gelas, logam dan lain-lain. Sementara untuk sampah organik dapat diolah  menjadi kompos, biogas, briket atau produk lainnya.

Penanganan Sampah 3-R, 4-R dan 5-R (Waste Management of 3-R, 4-R and 5-R)

Sahabat warung ilmiah, pemikiran konsep zero waste adalah pendekatan serta penerapan sistem dan teknologi pengolahan sampah perkotaan skala kawasan secara terpadu dengan sasaran untuk melakukan penanganan sampah perkotaan skala kawasan sehingga dapat mengurangi volume sampah sesedikit mungkin, serta terciptanya industri kecil daur ulang yang dikelola oleh masyarakat atau pemerintah daerah setempat.

Orientasi penanganan sampah dengan konsep zero waste diantaranya meliputi

1. Sistem pengolahan sampah secara terpadu.

2. Teknologi pengomposan, biogas, briket , pakan ternak dll.

3. Teknologi daur ulang sampah plastik, kertas dan yang lainnya.

4. Teknologi pembakaran sampah dan insinerator.

5. Teknologi pengolahan limbah cair (IPAL).

6. Teknologi tempat pembuangan akhir (TPA) sampah.

7. Peran serta masyarakat dalam penanganan sampah.

8. Pengolahan sampah kota.

Sahabat warung ilmiah, Pengertian Zero Waste (produksi bersih) adalah bahwa mulai dari produksi sampai berakhirnya suatu proses produksi dapat dihindari terjadi “produksi sampah” atau diminimalisir terjadinya “sampah”. Konsep Zero Waste ini salah satunya dengan menerapkan prinsip 3 R (Reduce, Reuse, Recycle), atau 4-R atau 5-R. Penanganan sampah 3-R adalah konsep penanganan sampah dengan cara reduce (mengurangi), reuse (menggunakan kembali), recycle (mendaur-ulang sampah), sedangkan 4-R ditambah replace (mengganti) mulai dari sumbernya. Jadi menjadi reduce, reuse, recycle, dan replace). Prinsip 5-R  selain 4 prinsip tersebut di atas ditambah lagi dengan  replant (menanam kembali). Jadi menjadi reduce, reuse, recycle, replace dan replant.

Produksi bersih (Zero waste) merupakan salah satu pendekatan untuk merancang ulang industri yang bertujuan untuk mencari cara-cara pengurangan produk-produk samping yang berbahaya, mengurangi polusi secara keseluruhan, dan menciptakan produk-produk dan limbah-limbahnya yang aman dalam kerangka siklus ekologi. Prinsip ini juga dapat diterapkan pada berbagai aktivitas termasuk juga kegiatan  skala rumah tangga.

Pemilahan Sampah (Garbage Sorting)

Sahabat warung ilmiah, konsep penangan sampah yang saat ini populer dikenal dengan isitilah 3 R (reuse, reduce dan recycle). Berdasarkan konsep ini, maka pemilahan sampah langsung di sumbernya menjadi sangat penting artinya. Adalah tidak efisien jika pemilahan dilakukan di TPA, karena ini akan memerlukan sarana dan prasarana yang mahal. Oleh sebab itu, pemilahan harus dilakukan di sumber sampah seperti perumahan, sekolah, kantor, puskesmas, rumah sakit, pasar, terminal dan tempat-tempat dimana manusia beraktivitas. Mengapa perlu pemilahan? Sesungguhnya kunci keberhasilan program daur ulang adalah justru di pemilahan awal. Pemilahan berarti upaya untuk memisahkan sekumpulan dari “sesuatu” yang sifatnya heterogen menurut jenis atau kelompoknya sehingga menjadi beberapa golongan yang sifatnya homogen. Ini berarti perlu manajerial. Manajemen Pemilahan Sampah dapat diartikan sebagai suatu proses kegiatan penanganan sampah sejak dari sumbernya dengan memanfaatkan penggunaan sumber daya secara efektif yang diawali dari pewadahan, pengumpulanan, pengangkutan, pengolahan, hingga pembuangan, melalui pengendalian pengelolaan organisasi yang berwawasan lingkungan, sehingga dapat mencapai tujuan atau sasaran yang telah ditetapkan yaitu.lingkungan bebas sampah.

Pada setiap tempat aktivitas dapat disediakan empat buah tempat sampah yang diberi kode, yaitu satu tempat sampah untuk sampah yang bisa  diurai oleh mikrobia (sampah organik), satu tempat sampah untuk sampah plastik atau yang sejenis, satu tempat sampah untuk kaleng, dan satu tempat sampah untuk botol. Malah bisa jadi menjadi lima tempat sampah, jika kertas dipisah tersendiri. Untuk sampah-sampah B3 tentunya memerlukan penanganan tersendiri. Sayangnya di Sumatera sejauh pengetahuan penulis belum ada penangan sampah B3 secara khusus. Sampah B3 tidak boleh sampai ke TPA. Sementara sampah-sampah elektronik  (seperti kulkas, radio, TV), keramik, furniture  dll. ditangani secara tersendiri pula. Jadwal pengangkutan sampah untuk berbagai jenis sampah harus diatur sedemikian rupa, sehingga tidak justru menimbulkan masalah di masyarakat. Keterlambatan pengangkutan sampah berarti akan menimbulkan keresahan dan bahkan  mengganggu kesehatan manusia. Dinas Kebersihan dapat mengatur jadwal dan truk yang mengangkut jenis sampah yang berbeda. Jadi, ada truk yang mengangkut sampah yang bisa diurai, ada truk yang mengangkut sampah anorganik seperti plastik, botol plastik dll.

Sahabat warung ilmiah, di beberapa negara, sistem pengelolaan sampah juga menerapkan model pemilahan antara sampah organik dan sampah anorganik. Setiap rumah tangga memiliki tiga keranjang sampah untuk tiga jenis sampah yang berbeda. Satu untuk sampah kering (an-organik), satu untuk bekas makanan, dan satu lagi untuk sisa-sisa tanaman/rumput. Ketiga jenis sampah itu akan diangkut oleh tiga truk berbeda yang memiliki jadwal berbeda pula. Setiap truk hanya akan mengambil jenis sampah yang menjadi tugasnya. Sehingga pemilahan sampah tidak berhenti pada level rumah tangga saja, tapi terus berlanjut pada rantai berikutnya, bahkan sampai pada TPA.

Nah, sampah-sampah yang telah dipilah inilah yang kemudian dapat didaur ulang menjadi barang-barang yang berguna. Jika pada setiap tempat aktivitas melakukan pemilahan, maka pengangkutan sampah menjadi lebih teratur. Dinas kebersihan tinggal mengangkutnya setiap hari dan tidak lagi kesulitan untuk memilahnya. Pemerintah Daerah bekerjasama dengan swasta dapat memproses sampah-sampah tersebut menjadi barang yang berguna. Dengan cara ini, maka volume sampah yang sampai ke TPA dapat dikurangi sebanyak mungkin.

Sahabat warung ilmiah, mari kita semua mulai mengelola sampah yang kita hasilkan minimal dengan konsep 3 R (reduce, reuse dan recycle). Saya akhiri bahasan kali ini, sampai jumpa pada episode selanjutnya.

Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *