TIM DOSEN PROTEKSI TANAMAN UNIB EDUKASI PETANI TENTANG PEMANFAATAN CENDAWAN ENTOMOPATOGEN UNTUK PENGENDALIAN HAMA CABAI

TIM DOSEN PROTEKSI TANAMAN UNIB EDUKASI PETANI TENTANG PEMANFAATAN CENDAWAN ENTOMOPATOGEN UNTUK PENGENDALIAN HAMA CABAI

Tim dosen Program Studi Proteksi Tanaman Universitas Bengkulu melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat pada Sabtu, 2 Mei 2026 di Desa Sumber Sari, Kecamatan Kabawetan, Kabupaten Kepahiang, Provinsi Bengkulu. Kegiatan ini terintegrasi dengan program Kemah Bakti Sosial (KBS) mahasiswa sebagai bagian dari penguatan peran dosen dalam edukasi dan pemberdayaan masyarakat pertanian.

Gambar. Pemaparan Materi dari Dr. Sempurna br. Ginting

Kegiatan pengabdian mengangkat tema “Aplikasi Cendawan Entomopatogen dalam Pengendalian Hayati Hama Tanaman Cabai” yang diketuai oleh Dr. Sempurna br. Ginting dengan anggota tim Ir. Djamilah, dan Hikmatul Husna Al Mursyidi, M.Si. Tim pengabdian memberikan edukasi kepada masyarakat mengenai pengendalian hama cabai menggunakan agen hayati yang lebih aman dan ramah lingkungan.

Dalam kegiatan tersebut, tim dosen menjelaskan beberapa hama penting pada tanaman cabai seperti kutu kebul, thrips, dan lalat buah yang sering menyebabkan penurunan produksi dan kualitas hasil panen cabai. Kutu kebul diketahui hidup berkelompok di bawah daun cabai dengan cara mengisap cairan tanaman serta dapat menjadi vektor virus penyebab penyakit keriting kuning pada cabai.

Gambar. Pemaparan Materi dari Ir. Djamilah

Selain itu, thrips juga menjadi perhatian karena menyerang daun muda, pucuk, dan bunga dengan cara merobek jaringan tanaman dan mengisap cairan sel tanaman. Gejala serangan ditandai dengan daun mengeriting, muncul bercak putih atau keperakan, hingga menyebabkan bunga dan buah mudah rusak. Sementara serangan lalat buah menyebabkan munculnya bintik hitam pada buah cabai, kerontokan buah, serta adanya larva di dalam buah yang mempercepat kerusakan hasil panen.

Sebagai solusi pengendalian yang lebih berkelanjutan, tim pengabdian memperkenalkan pemanfaatan cendawan entomopatogen, khususnya Beauveria bassiana, sebagai agen pengendalian hayati hama tanaman cabai. Tim menjelaskan bahwa cendawan entomopatogen bekerja dengan cara spora menempel pada tubuh serangga hama, kemudian berkecambah dan menembus tubuh serangga hingga menyebabkan hama mati dan tubuhnya ditumbuhi jamur.

Masyarakat juga diberikan penjelasan mengenai teknik aplikasi B. bassiana di lapangan. Tim dosen menyampaikan bahwa aplikasi sebaiknya dilakukan saat populasi hama masih rendah hingga sedang, pada sore hari, serta dalam kondisi kelembapan yang cukup agar spora dapat berkembang dengan baik. Penyemprotan dilakukan secara merata pada bagian bawah daun, pucuk, bunga, dan bagian tanaman yang banyak ditemukan hama.

Gambar. Serah Terima Cendawan Entomopatogen, Khususnya Beauveria bassiana Kepada Petani Oleh Tim Dr. Sempurna br. Ginting

Selain pengendalian hayati, tim pengabdian turut menjelaskan pentingnya penerapan Pengendalian Hama Terpadu (PHT) melalui sanitasi lahan, penggunaan perangkap kuning, tanaman perangkap, pemanfaatan musuh alami, serta penggunaan pestisida secara bijak dan sesuai kebutuhan. Pendekatan ini diharapkan dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem pertanian sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap pestisida kimia.

Kegiatan berlangsung interaktif dengan diskusi antara tim dosen dan masyarakat terkait pengelolaan hama tanaman cabai di lapangan. Integrasi kegiatan pengabdian dengan KBS mahasiswa juga memberikan pengalaman pembelajaran langsung bagi mahasiswa dalam penerapan ilmu proteksi tanaman di masyarakat.

Melalui kegiatan ini, Program Studi Proteksi Tanaman Universitas Bengkulu terus memperkuat komitmennya dalam mendukung pengembangan pertanian berkelanjutan melalui penerapan teknologi pengendalian hayati yang aman, efektif, dan ramah lingkungan.

Gambar. Foto Bersama Dosen, Petani, dan Mahasiswa