Hilirisasi dan Digitalisasi: Kunci Masa Depan Bisnis Peternakan di Era Milenial

Hilirisasi dan Digitalisasi: Kunci Masa Depan Bisnis Peternakan di Era Milenial

Bengkulu, 08 Mei 2025 – Seminar Nasional Inovasi dan Teknologi Peternakan Tropis (SAINTROP 2025) yang diselenggarakan oleh Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Bengkulu menghadirkan praktisi berpengalaman, Ir. Agus Wahyudi, selaku Vice President Head of Marketing West Area PT Ciomas Adisatwa (Jafa Group),. Dalam paparannya, beliau menekankan pentingnya transformasi sektor peternakan dari sekadar penjualan komoditas menjadi produk olahan bernilai tambah (hilirisasi) melalui pemanfaatan teknologi digital,.
Pentingnya Hilirisasi Produk Unggas Agus Wahyudi menjelaskan bahwa subsektor perunggasan berkontribusi terhadap 2/3 konsumsi protein masyarakat Indonesia. Namun, tantangan besar saat ini adalah bagaimana menjaga kualitas protein tersebut dari kandang hingga ke meja makan (safe from farm to table).
“Hilirisasi bukan lagi pilihan, tapi keharusan. Kita harus beralih dari menjual ayam hidup (live bird) ke produk karkas, produk siap masak (ready to cook), hingga siap saji (ready to eat),” tegasnya,. Beliau menambahkan bahwa margin keuntungan pada produk olahan jauh lebih stabil dan tinggi dibandingkan dengan produk komoditas yang harganya fluktuatif,.
Menyasar Pasar Milenial dan Gen-Z Dalam sesi tersebut, Agus memaparkan data bahwa struktur penduduk Indonesia saat ini didominasi oleh generasi milenial dan Gen-Z yang sangat akrab dengan internet dan gaya hidup serba cepat. Hal ini merubah perilaku konsumen yang kini lebih memilih berbelanja melalui platform digital dan menginginkan produk praktis,.
“Pebisnis peternakan masa depan harus memahami gaya hidup milenial. Mereka maunya cashless, kecanduan internet, dan menyukai kepraktisan. Di sinilah peran digitalisasi dalam saluran distribusi dan komunikasi menjadi sangat krusial,” jelas Agus,.
Peluang Bisnis Peternakan di Bengkulu Secara spesifik, Agus menyoroti potensi besar di Provinsi Bengkulu. Berdasarkan data, Bengkulu masih mengalami kekurangan pasokan daging ayam dan telur, sehingga harus mendatangkan pasokan dari provinsi tetangga seperti Lampung, Sumatera Barat, dan Sumatera Selatan,,.
Kondisi ini merupakan peluang emas bagi mahasiswa dan alumni Jurusan Peternakan UNIB untuk berwirausaha. Agus mendorong para calon lulusan untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi menjadi penyedia lapangan kerja melalui usaha hilirisasi peternakan di daerah sendiri,.
Pesan untuk Mahasiswa: Bisnis adalah Aksi Menutup presentasinya, Agus memberikan motivasi kuat kepada para mahasiswa agar tidak takut memulai bisnis. Beliau menekankan bahwa kesuksesan wirausaha terdiri dari 1% inspirasi dan 99% keringat atau aksi nyata.
“Jangan hanya berhenti di tataran teori. Pebisnis itu butuh aksi. Cari keunikan produkmu, manfaatkan teknologi, dan jangan ragu mencari mentor untuk membimbing langkah bisnismu,” pungkasnya,.
Seminar ini menjadi ajang penting bagi mahasiswa UNIB untuk mendapatkan wawasan langsung dari dunia industri, guna menyelaraskan ilmu akademik dengan kebutuhan pasar yang terus berkembang di era digital

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *