Dekan Peternakan UGM di SAINTROP UNIB: Strategi Menghadapi Krisis Pangan Global Melalui Ekonomi Sirkuler
Bengkulu, 08 Mei 2025 – Jurusan Peternakan Universitas Bengkulu kembali menunjukkan perannya sebagai pusat pengembangan ilmu peternakan tropis dengan suksesnya penyelenggaraan Seminar Nasional Inovasi dan Teknologi Peternakan Tropis (SAINTROP 2025). Salah satu narasumber utama yang hadir secara virtual adalah Dekan Fakultas Peternakan Universitas Gadjah Mada (UGM) sekaligus Sekjen Forum Pimpinan Perguruan Tinggi Peternakan Indonesia (FPPTI), Prof. Ir. Budi Guntoro, S.Pt., M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng.,.
Tantangan Krisis Pangan dan Peran Sektor Peternakan Dalam paparannya, Prof. Budi Guntoro menyoroti kondisi dunia yang tengah menghadapi kerawanan pangan akut akibat guncangan ekonomi dan konflik global. Ia memproyeksikan bahwa produktivitas pangan, khususnya protein hewani, harus ditingkatkan sebesar 50 hingga 70 persen pada tahun 2050 untuk memenuhi kebutuhan populasi dunia yang terus meningkat.
“Tantangan kita sangat besar, mulai dari keterbatasan lahan hingga isu perubahan iklim (climate change) yang berdampak langsung pada produktivitas ternak ruminansia akibat stres panas,” ungkap Prof. Budi,. Beliau juga mencatat bahwa tingkat konsumsi daging di Indonesia (sekitar 5-10 kg per kapita) masih jauh tertinggal dibandingkan negara tetangga seperti Malaysia, Singapura, dan Vietnam,.
Inovasi Ekonomi Sirkuler di Tingkat Rumah Tangga Sebagai solusi nyata, Prof. Budi mendorong penerapan Ekonomi Sirkuler (Circular Economy) pada usaha peternakan, khususnya skala rakyat dan rumah tangga. Konsep ini menekankan pada pengelolaan sumber daya yang ramah lingkungan dan pemanfaatan limbah peternakan agar memiliki nilai ekonomi kembali,.
“Ekonomi sirkuler ini sangat relevan jika dimulai dari skala kecil di rumah tangga atau pedesaan. Dengan memaksimalkan sumber daya lokal dan mengurangi sampah peternakan, kita dapat menciptakan keberlanjutan usaha yang sekaligus menopang ekonomi desa,” jelasnya,.
Mendukung Program Makan Bergizi Gratis Terkait program nasional, Prof. Budi menegaskan bahwa kebijakan pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan pemberian susu sekolah adalah peluang besar bagi insan peternakan,. Namun, ia juga mengingatkan adanya tantangan sosial, seperti kurangnya literasi nutrisi di kalangan pengajar dan orang tua yang terkadang masih enggan mempromosikan konsumsi susu.
Tantangan Generasi Muda Peternakan Menutup sesinya, beliau memberikan catatan penting bagi mahasiswa dan alumni peternakan UNIB. Saat ini, terdapat tren di mana generasi muda lebih tertarik bekerja di sektor off-farm (di belakang meja) dibandingkan terjun langsung ke lapangan (on-farm).
“Dibutuhkan sarjana peternakan yang mampu melakukan analisis finansial dan teknologi di pedesaan, sehingga usaha peternakan rakyat tidak lagi dipandang sebelah mata, melainkan dikelola secara profesional dan menguntungkan,” pungkasnya.
Seminar SAINTROP 2025 ini diharapkan menjadi jembatan antara akademisi dan praktisi untuk melahirkan ide-ide teknologi peternakan yang aplikatif bagi masyarakat Indonesia.
